KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, penulis panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna karena keterbatasan pengetahuan yang penyusun miliki.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Amin
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar i
Daftar isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2
C. Manfaat 2
BAB II FASE PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA 3
A. Pendidikan Agama Usia Pranatal 3
B. Pendidikan Agama Usia Balita 6
C. Pendidikan Agama Usia Remaja 7
BAB III PENUTUP 8
A. Kesimpulan 8
B. Saran 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya membuat manusia serba mudah dalam menyelesaikan tugas kesehariannya, dilain pihak hal ini memberikan dampak yang cukup besar bagi kemerosotan akhlak remaja. Dengan kemudahnnya remaja mengkases hal yag negatif baik itu dari media cetak, elektornik atau intenet jelas berdampak buruk pada mental kejiwaan remaja, yang pada masa-masa itu merupakan masa pencarian jati diri. Masa yang labil yang memerlukan bimbingan dan arahan yang benar menuju kedewasaan.
Kenakalan remaja juga dapat disebabkan karena pola pengasuhan yang salah. Kelalaian keluarga dapat berefek pada perkembangan anak. Banyak orang tua yang melakukan kelalaian seperti : kejam dan kasar dalam mengasuh anak, digunakannya disiplin fisik yang keras, terus menerus mengkritik, mencela serta membeberkan berbagai kekurangan anak di depan orang tua lain, sering mencemooh dan menghardik anak, lalai memuji anak, merendahkan anak dihadapan kakak atau adiknya dan menunjukan keheranan ketika orang lain memuji anak-anaknya.
Dari pemikiran di atas, perlu pembenahan pendidikan pada keluarga, karena ternyata pangkal permasalahan kemerosotan akhlak ini dimulai dari kehidupan keluarga.
Dalam makalah ini, penulis mencoba membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan agama dalam keluarga, terutama pda usia pranatal, balita, dan remaja.
B. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan agama dalam keluarga usia pranatal, balita dan remaja.
C. Manfaat
1. Lebih menyadari bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam menciptakan akhlak muslim sejak dini
2. Memperbaiki kemerosotan akhlak bangsa
3. Menerapkan pengetahuan ini dalam kehidupan keluarga sehari-hari
BAB II
FASE PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA
A. Pendidikan Agama Usia Pranatal
Masa mendidik anak menurut ajaran Islam dimulai dengan masa persiapan mendidiknya. Masa persiapan ini dikelompokan menjadi 3 fase, yaitu :
1. Masa Pranikah
Masa pranikah dimulai dengan melakukan seleksi ketat dalam memilih pasangan hidup dengan selektif memilih Istri dan memilih Suami.
2. Masa Prahamil
Apabila pemilihan calon suami atau calon istri sudah positif dan pelaksanaan akan segera dilaksanakan, maka harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut
a. Pada waktu akad nikah.
Allah SWT., telah menjadikan hubungan antara suami istri sebagai hubungan yang didasari oleh perasaan cinta dan kasih sayang. Untuk menjaga kelestarian hubungan ini, Islam mengajak muslim untuk menjadikan nilai-nilai luhur Islam sebagai asas dan pondasi keluarga.
b. Pada saat Bersetubuh
Sebelum melakukan hubungan suami istri hendaknya melakukan shalat sunnah dua raka’at terlebih dahulu, kemudian mengucapkan fuji syukur kepada Allah SWT., dan membaca shalawat kepada Nabi SAW. Dan dianjurkan untuk membaca do’a ini :
“Bismillah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah pula setan itu dari anak (yang mungkin) Engkau karuniakan kepada kami.”
3. Masa Kehamilan
a. Pembentukan Janin
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan pembentukan janin ini yaitu :
1) Dilarang melakukan hubungan suami istri pada waktu-waktu tertentu, yaitu diantara terbitnya fajar dan terbitnya matahari, diantara terbenamnya matahari hingga hilangnya awan merah, saat dhuhur, tanggal pertama, pertengahan dan akhir setiap bulan, saat terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari, saat bertiupnya angin hitam, merah dan kuning saat terjadi gempa dan lain sebagainya.
2) Tidak berbicara saat bersenggama
3) Tidak boleh melihat kemaluan istri
4) Tidak mengumpuli istri setelah mimpi junub dan ia belum mandi
5) Tidak bersenggama dalam posisi berdiri
6) Tidak boleh membayangkan wanita lain ketika bersenggama
7) Tidak mengumpuli istri saat mengandung, kecuali jika ia berwudlu dahulu
b. Lingkungan Pertama Anak
Lingkungan pertama bagi anak adalah rahim ibunya. Rahim sangat erat hubungannya dengan perkembangan janin. Janin tidak terpisahkan dari ibu yang mengandungnya. Karena itu semua kondisi dan keadaan yang dialami oleh ibu akan berpengaruh terhadap janin.
Ajaran Islam tentang cara menjauhkan janin dan anak dari pengaruh buruk yang mungkin timbul sewaktu berada di dalam kandungan.
1) Perhatian Terhadap Makanan Ibu
2) Perhatian terhadap kondisi kejiwaan Ibu Hamil
Pendidikan anak dimulai secara aktif pada usia kehamilan melalui ibunya. Dari segi pertumbuhan dan kesejahteraan fisiknya, janin dalam kandungan dijaga melalui pemenuhan makanan dan pemeliharaan kesehatan ibunya. Adapun dari segi psikololgisnya, janin tersebut dipelihara melalui pembinaan suasana rumah tangga sedemikian rupa sehingga ibu yang mengandungnya tetap merasakan ketentraman, kenyamanan, dan kestabilan emosi.
Para suami perlu mengetahui bahwa kehamilan bagi seorang perempuan lebih-lebih kehamilan pertama, merupakan krisis perkembangan . Terjadi perubahan sikap dan tingkah laku istri sebagai akibat perubaan fisik, seperti perut membesar dan pada gilirannya ketegangan –ketegangan psikologis yang disebabkan oleh perubahan fisik tersebut. Ia lantas memperlihatkan “mode” baru dalam sikap dan tingkahnya sehingga ia bisa saja bertingkah yang kelihatannya positif atau sebaliknya memperlihatkan perilaku yang tampak negatif.
B. Pendidikan Anak Pada Usia Balita
Islam memberikan perhatian ekstra kepada anak sejak hari-hari pertama kelahirannya dengan mengajarkan orang tua untuk melakukan beberapa hal berikut :
a. Acara Syukuran
Acara sukuran dilakukan antara hari pertama kelahiran hingga hari ketujuh. Acara ini terdiri dari memperdengarkan nama Allah SWT., di telinga anak yaitu dengan adzan, pemberian nama yagn baik, aqikah dan khitan.
Sabda Nabi Saw :
“Ya Ali jika engkau dianugrahi anak, laki-laki atau perempuan bacalah adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, dengan demikian ia akan selamat dari godaan syetan selama-lamanya.”
b. Perhatian terhadap ASI
Susu merupakan makanan terpenting dan sumber kehidupan satu-satunya bagi bayi di bulan-bulan pertama usianya. Susu terbaik untuk anak adalah air susu ibu karena dengan menyusui terjadilah kontak cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak. Ibu adalah orang yang paling mampu memberikan cinta dan kehangatan yang sesungguhnya kepada anak dengan naluri keibuannya yang diberikan Allah kepadanya.
C. Pendidikan Agama pada Usia Remaja
Beberpa hal yang penting berhubungan dengan pendidikan anak pada fase ini:
a. Pendidikan Ekstra Ketat
Pendidikan ini berupa mengajarinya budi pekerti yang luhur. Pada fase ini anak memerlukan perhatian dan penawasan ketat dari orang tuanya.
b. Dorongan untuk belajar
c. Melatih anak untuk patuh
d. Pengawasan terhadap cara berfikir, serta pengembangan imajinasi dan humanisme anak.
e. Pencegahan atas perilaku asusila
f. Menciptakan hubungan dengan teladan yang baik.
Tujuan pendidikan agama bagi anak usia remaja adalah membentuk kepribadian yang didalamnya terjalin nilai-nilai keimana, yang selanjutnya menjadi pengarah dan pengendali bagi perilakunya, serta dapat selalu mengadakan pilihan terbaik (sesuai dengan ketentuan Allah) dalam hidupnya.
Materinya adalah hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, keislaman, dan akhlak. Sedangkan metode yang dapat diterapkan adalah keteladanan, pembiasaan, pembetulan yang salah, melerai yang bertengkar dengan adil dan memperingatkan yang lupa.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan agama dalam keluarga sangat penting sekali demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah yang berujung pada terciptanya Negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghafur.
Pendidikan agama bagi anak dimulai sejak usia pranatal, balita dan remaja dengan menggunakan materi dan metode yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut.
Tujuan pendidikan agama bagi anak usia remaja adalah membentuk kepribadian yang didalamnya terjalin nilai-nilai keimana, yang selanjutnya menjadi pengarah dan pengendali bagi perilakunya, serta dapat selalu mengadakan pilihan terbaik (sesuai dengan ketentuan Allah) dalam hidupnya.
B. Saran
perlu pembenahan pendidikan pada keluarga, karena ternyata pangkal permasalahan kemerosotan akhlak ini dimulai dari kehidupan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Tafsir, 2002. Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga. Bandung : Remaja Rosdakarya
Suhrawardi,………….Bahan Kuliah Pendidikan Agama dalam Keluarga. Tasikmalaya : Fakultas Tarbiyah IAILM PPS.
Al Qarashi, Baqir Sharif. 2003. Seni Mendidik Islami. Jakarta : Pustaka Zahra.











0 komentar:
Posting Komentar